
Oleh : Muhamad Amrillah Salis Ketika malam kian larut, pekat mulai luruh mengurapi langit tanpa bingkai. Kini aku telanjang, berbeban salib sunyi ditengah kegalauan. Seperti mencolek takdir, akhirnya aku hanyut oleh getah waktu Seperti menyayat doa, semoga salamku hanyut ke akhirat. *Sayang, langit cukup luas untuk menuliskan rasa rindumu, Dan tulislah semua asa dengan nista Biar kubaca, walau sambil minum darah bulan yang dituangkan langsung dari lukanya dilangit Seperti tersepuh waktu, aku-pun matang oleh rindu Seperti menonggak hati, aku-pun memintal lagu untuk kunyanyikan secara diam-diam *Sayang, Jika rindu adalah langit Jika cinta adalah matahari Maka liangmu adalah batas penguji nista berjeruji Kini aku tak lebih dari setitik diantara para hujan yang meradang gundah gulana mengharap belas kerinduan *Sayang, Dimatamu, ada sebercak sisa cinta dan rasa sakit Dihatimu, ada rasa rindu meriak danau dan awan yang menggelut Tapi, aku tetap setia disamping kuburmu, mengendus harum kerinduan digaris tanganmu
back